Woman in Potrait

Hari itu aku menangis sepanjang perjalanan, entah apa yang membuat hati ini terasa perih, perasaan macam apa ini? mengerti apa seorang anak 9 tahun soal rasa sakit?, sambil sesekali menghapus air mata pada pipiku yang tercampur dengan air hujan, aku terus berlari, keluar dari jalan raya dan memasuki jalan setapak yang berlumpur, aku tak perduli lagi kemana langkah kakiku mengarah, ketebing? kehutan? entahlah... yang kuinginkan saat ini hanyalah berlari dan berlari, berlari sampai kakiku patah karenanya.

Tanpa sadar jalan ini terasa semakin sempit, suara-suara bising kendaraan sudah tak terdengar lagi, rasa gatal mulai terasa pada lengan dan leherku, ranting-ranting mulai memukul-mukul saat aku berlari, lalu dengan perlahan aku mulai tersadar dari lamunanku. Dimana ini? apa aku terlalu jauh berlari? dimana? sekarang aku sudah melupakan alasan kenapa aku pergi dan menangis, sekarang aku hanyalah seorang anak kecil yang tersesat dan kebingungan, Ibu... apa kau mengejar dibelakangkau? jika iya.. maka cepatlah, bawa aku pulang, gumamku dalam langkah-langkah kecil penuh keraguan. Kemudian aku berlari kembali, menerobos sebuah semak-semak didepanku, berharap aku menabrak dinding sebuah rumah dan diselamatkan oleh penghuninya, namun.... pemandangan yang kulihat hanya sebuah perkebunan pisang yang sangat luas.

***

Mengerikan, kenapa aku bisa berada ditempat seperti ini, pikirku terus sambil berjalan diantara pohon-pohon pisang yang teduh dan berair, meneteskan sisa-sisa air mata dari kepedihan langit hari itu.

Jalan setapak ini terus aku susuri, berharap jalan itu akan berakhir disebuah bangunan, rumah, gudang, pabrik atau apapun selama ditempat itu aku bisa menemukan orang lain yang bisa menyelamatkanku.

Dan akhirnya, aku terpaku ketika jalan itu benar-benar berakhir, benarkan, benar-benar berakhir disebuah rumah, rumah yang sangat besar, begitu besar dan tua.

***

Akupun melangkah kearah teras sambil berharap seseorang akan menyapaku, namun tempat itu terasa begitu sepi, lantainya dipenuhi dengan dedaunan yang terbawa angin dari pohon-pohon disekitarnya. Dinding-dindingnya yang sebagian terbuat dari kayu mulai keropos, catnya mengelupas dan warnanya sterlihat sangat kusam, begitu kusamnya seolah ia memperlihatkan kesedihan atas kenangan-kenangan indah rumah ini dimasa lalu.

Akhirnya ketukan pertamaku pada pintu rumah tua itu, kemudian yang kedua dan ketiga disusul dengan teriakan serakku setelah menangis ditengah hujan, "apakah ada orang?", "apa aku boleh masuk?". Lama berteriak membuatku secara tak sadar telah melewati pintu rumah yang tak terkunci itu dan berada didalamnya, akupun terus memberanikan diri melangkah lebih dalam, semua sudut ruangan dirumah itu terasa hidup, semua lampu-lampu yang jelas telah meninggalkan masa kejayaannya itu seolah menatap tajam padaku dan berkata "kau akan menyesalinya".

Tidak ada apapun dirumah itu selain perabotan dan hiasan-hiasan yang sangat klasik, seolah rumah seorang kolektor barang-barang antik, disudut ruangan ketiga yang aku masuki, terlihat sebuah benda diatas meja yang tertutupi oleh kain putih, aku tahu ini bukanlah hal yang baik, tapi aku ingin membukanya, siapapun pasti memaklumi kenakalan anak kecil, jadi aku rasa tak masalah membukanya.

Aku tercengang melihat apa yang ada dibalik kain putih yang berdebu itu, sebuah lukisan, tapi siapa? siapa anak kecil yang berada dalam lukisan ini? seorang anak yang berusia sekitar 5 tahun, didandani seperti wanita bangsawan eropa pada abad pertengahan, memakai topi lebar yang menutupi sebagian keningnya, menatap lusuh kesetiap arah ruangan, dia seoalah menyapa ku dan berteriak "selamatkan aku". Aku terjatuh, lututku terasa lemas. Perasaan apa ini?

***

Cukup lama aku terduduk hingga akhirnya aku memutuskan untuk berdiri dan menutup lukisan itu kembali, tapi rasanya aku terlau takut, takut wanita dalam lukisan itu tidak ingin aku menutupnya. Kemudian aku berlari kearah tangga, menaikinya dan sekarang aku berada dilantai 2, kaca-kaca jendela yang berlumut dan buram, jaring laba-laba yang memenuhi setiap sudut ruangan menambah kesan horor didalamnya, anak kecil macam apa yang berada disituasi seperti ini gumamku. Kengerianku kemudian terhenti saat melihat papan nama pada sebuah pintu yang bertuliskan "My Lovey Mary". Apa itu kamar gadis dilukisan tadi?

***

Aku mendorongnya sekuat tenaga hingga tersungkur jauh kedalam ruangan itu, ah.. ini kamar perempuan, jelas terlihat dari pernak-pernih didalamnya, boneka-boneka, buku-buku dengan sampul tebal dengan gambar-gambar peri didepannya. Benar-benar anak gadis yang bahagia pikirku. Akupun kemudian mengacak-ngacak kamar itu seperti seorang kriminal.

Aku menemukan banyak poto-potonya, aneh sekali, kenapa dia selalu sendirian dipoto itu? Aku melamun cukup lama sampai suara langkah kaki membuyarkan lamunanku, ah.. ada orang, sebaiknya aku menghampirinya, oh tidak.. dia pasti akan marah setelah tahu apa yang kuperbuat, bagaimana.... bagaimana.. apa aku harus bersembunyi? langkah kaki itu terus mendekat dan....

Duaaakkk... suara jam beker terjatuh dari meja dekat tempat tidurku. Dan ah..... mimpi itu lagi, sangat mengerikan. Aku terbangun tepat jam 2 malam, udara masih sangat dingin, kenapa jam itu terjatuh? keringat memenuhi keningku dan .... apa ini? aku menggenggam sebuah kertas yang lusuh. Dengan perlahan aku membuka kertas yang sudah tercampur dengan keringat itu, lalu.... Ini... poto ini... mary ?

***

Sekarang aku harus berangkat pagi-pagi, banyak sekali hal yang harus diselesaikan ditempat kerja, yah.. menjadi editor sebuah penerbit memang dituntut untuk berlari bersama dengan jarum detik pada jam dinding. Ditambah, orang-orang dilingkuangan kerja yang lebih senang menyendiri membuat suasana disana begitu mengerikan, aku menggumam sepanjang perjalan hingga tanpa disadari aku sudah duduk dimeja kerja ku, benar-benar dunia yang cepat berlalu.

Kemudian kepala editor masuk keruangan pagi itu, sontak mengalihkan lamunanku yang sudah terlanjur dalam, tidak biasanya beliau datang sepagi ini. Dan.. siapa wanita itu?

"Selamat pagi..." Ucap kepala editor pada akhirnya. "Sepertinya kalian mendapat rekan kerja baru, tolong bantu dia untuk beradaptasi dan mengenali pekerjaanya". Ujar kepala editor ketus.
"Oh.. iya, siapa nama anda tadi?". Kepala editor menambahkan.

"Mary.. panggil saja saya mary!". Ucap gadis itu dengan yakin.

Aku hanya terdiam mendengar nama itu, apa aku masih bermimpi? kutukku pada apa yang sedang terjadi, apa ini lelucon, kenapa? kenapa? apa aku sedang berada dalam dongeng? novel penulis terkenal? atau mahakarya seorang pemenang nobel dibidang sastra?

"Eh...!". gadis itu kemudian menatapku dengan tatapan kosong, kemudian tersenyum manis. Kemudian kami bertatapan untuk beberapa waktu.

~ Fin ~
 
 

0 comments:

Posting Komentar