2 DAYS TODAY (Chapter 01)



2 DAYS TODAY

Wednesday 14:37 PM
Seorang pria berjas hitam datang dengan terengah-engah, membawa secarik kertas yang sudah terbakar sebagian, pria itu menghampiri sebuah ruangan dan mendorong pintu didepannya dengan kuat hingga membanting keinding, ia menatap orang yang berada diruangan itu, yang tampaknya sedang berbicara dengan seseorang ditelpon, dengan sikap yang gugup pria yang keningnya dipenuhi keringat itu memberikan kertas yang iremasnya dengan kuat kepada seorang pria berperawakan tegap, berkumis tipis dan tercukur rapi, memperlihatkan kharismanya yang kuat dengan tatapan tajam kesegala arah, bener-benar tatapan tanpa ampun, ya.. pria paling dihormati ditempat itu, yang pintu ruangannya ia banting dengan keras.
“Inspektur Brad, aku menemukan kertas ini ditempat kejadian, nyaris terbakar tapi masih bisa kuselamatkan”.
Pria paruh baya itu kemuian menatap kertas tersebut dengan tatapan kosong, seolah melihat seseuatu yang mengerikan dan tak mampu ia bayangkan seperti apa kengerian yang mungkin terjadi dari tempat dimana kertas itu ditemukan.
“Sial, dimana tempatnya?” ujar pria paruh baya itu pada akhirnya.
                “Distrik A inspektur, distrik A” sahut pria yang masih mencoba menghela napas itu dengan reaksi yang penuh ketakutan.
                “Kerahkan semua unit yang ada.. tidak, panggil semua unit tidak peduli apa yang mereka kerjakan, aku ingin semua orang didepartemen ini berkumpul disana”. Ujar sang inspektur dengan nada yang tegas.
15 menit kemudian inspektur brad sudah berada dilokasi kejadian, ia melangkah di antara reruntuhan dengan suasana yang penuh kebisingan. “Kacau sekali, benar-benar seperti dineraka”, dengusnya dengan kesal.
“Seperti kau pernah keneraka saja”. Cletuk seorang pria muda dari arah belakang.
“Apa lagi yang lebih buruk dari ini”. Balas inspektur brad dengan tenang.
“Menyerah saja, ini sudah yang kedua kalinya kan? Apa yang kau dapatkan? Kertas-kertas lusuh itu”. Sindir pria muda itu dengan semangat.
“2 pengeboman, 37 orang meninggal, ratusan lainnya dirumah sakit, dan belasan lainnya sedang ditangisi keluarganya dirumah sakit karena kritis, jangan ingatkan aku soal detail dari kasus ini, dan kau tahu apa yang kudapatkan? Ya.. dua lembar kertas lusuh dari tempat kejadian perkara, jika kau pikir ini petunjuk maka ya.. aku suah mendapatkan petunjuk”. Jawab Inspektur Brad ketus.
Pria muda itu menghela napas “kau tahu yang kupikirkan brad, kau terlalu idealis, kau harus mulai menangkap seseorang jika ingin kasus ini berakhir, tidak perduli apakah kau punya bukti atau tidak, pergilah kesuatu tempat dan tangkaplah seseorang”.
“Kau benar-benar pria muda yang brengsek Steve, sebaiknya kita pergi dari sini, sudah cukup dengan puing-puing dan tempat sialan ini”.
Akhirnya mereka berdua pergi dari TKP dan masuk kedalam mobil yang sama, sebagai yang lebih muda, steve yang menyetir, mereka Nampak mengobrol serius ketika mobilnya mulai melaju. Steve Clay, pria muda yang baru dimutasi dari new York ini memang sangat menonjol an dikenal tak punya rasa hormat, dia bukan tipe pria yang menuruti perintah siapapun, tapi ia memiliki orang-orang yang ia kagumi, orang-orang yang ia bisa ikuti perkataannya, dialah inspektur Brad, orang yang ia anggap sudah seperti ayahnya sendiri, sejak ayahnya meninggal dalam tugas sewaktu steve duduk dibangku SMP, ia mulai bercita-cita menjadi penegak hokum, cita-cita yang memuakkan bagi orang-orang dilingkuangannya.

Wednesday 16:02 PM
“Kenapa sekarang kita berada diruangan sempit ini, bukankah kau tak suka berada dikantor, terlalu banyak tekanan disini kan?” Sindir steve kepada rekannya yang sedang bermuka suram itu.
“Menurutmu apa artinya symbol dikertas ini?. Tanya inspektur brad acuh.
“Lambang salib, Kristen? Agama? Palang merah? Mungkin sesuatu seperti itu, atau mungkin tujuan pengeboman selanjutnya, kau ingat ditempat kejadian pertama kita menemukan kertas bergambar topi, kemudian sebuah sekolah dasar disudut kota meledak”. Balas steve santai.
“Jadi orang macam apa yang melakukan hal ini? Seorang pembenci agama tertentu? Jika ya,, bukankah target selanjutnya adalah sebuah gereja?”. Ujar inspektur brad serius.
“Mungkin, meski rasanya terlalu cepat mengambil kesimpulan”. Balas steve sambil meminum kopi kaleng.
Cukup lama terjadi keheningan, hingga akhirnya seorang petugas diruangan tersebut menerima telpon dengan wajah yang penuh kengerian. “Inspektur… sebuah bom meledak disebuah gereja diselatan”. Ujar petugas itu pada akhirnya.
Steve dan inspektur Brad kemudian bertatapan untuk beberapa detik. “sialan,, sial…”. Gumam inspektur Brad sambil mengambil mantelnya dari kursi sambil berlari keluar ruangan yang kemudian diikuti oleh steve dengan cekatan, benar-benar hari yang buruk bagi mereka berdua.

Wednesday 17:42 PM
Inspektur Brad dan steve sudah berada dilokasi pengeboman, gereja itu benar-benar hancur pada bagian samping, beton-beton yang menjadi dinding dari bangunan itu Nampak kehilangan kekokohannya saat menjadi puing-puing yang berserakan dilantai, kayu-kayu dibagian atap Nampak masih terbakar, api-api merah Nampak begitu bersemangat melahap kayu-kayu tua itu dengan semangat, sungguh suasana yang Nampak seperti neraka, petugas pemadam kebakaran terus mengeluarkan orang-orang dengan luka bakar, orang-orang terus berkerumun dibelakang garis polisi dengan penuh kengerian atas apa yang dilihatnya.
Inspektur brad hanya terdiam melihat kengerian yang terjadi didepannya, bagaimana hal ini bisa terjadi didepannya, 3 pengeboman dalam sehari, bagaimana ia bisa mengakhiri pengabdianya sebagai polisi, bagaimana ia akan berpidato dihari ia melepaskan jabatannya beberapa minggu lagi, apa kata-kata dramatis yang bisa ia katakana dengan kencang, apa dia bisa mendapatkan tepuk tangan yang pantas, bagaimana seseorang yang akan pension mendapatkan kasus dihari-hari akhir masa jabatannya, sungguh sial.
“Sungguh hari yang buruk kan?”. Ujar steve memecah lamunan inspektur Brad.
“Cobalah untuk serius steve. Orang-orang terus mati didepan kita”. Ketus inspektur brad tanpa menoleh kearah steve.
“Apa menurutmu kamera diujung jalan sana bisa memberikan jawaban?”. Ujar steve sampil melihat kearah toko makanan diseberang jalan.
“Aku harap ada gambar-gambar buram tentang pelakunya disana steve”. Inspektur Brad mengatakannya sambil berjalan kerah toko. Steve pun mengikutinya tanpa dikomando.  

***BERSAMBUNG***
 

0 comments:

Posting Komentar